Oleh: Andi Dwi Handoko dan Ristyowati

ABSTRAK
“Mr. Pecut” adalah salah satu judul kolom dalam surat kabar Jawa Pos. Bahasa yang digunakan di kolom ini bersifat implikatif sehingga dapat menjadi sebuah kajian yang menarik. Implikasi pada bahasa kolom ini menyebabkan efek tertentu bagi khalayak yang membacanya. Kolom ini lebih menekankan bahasa yang menyatakan sindiran pada pihak-pihak tertentu. Sindiran ini tidak disampaikan langsung namun disampaikan secara tersirat. Untuk memahami implikatur pada kolom ini pembaca juga harus memahami konteks yang menyertainya. Humor juga ditekankan pada penggunaan bahasa di kolom ini. Sindiran-sindiran yang digunakan pada kolom ini seringkali menjadi sebuah hal yang lucu. Tulisan ini akan membahas tentang implikasi-implikasi berdasarkan konteksnya yang terdapat pada kolom “Mr. Pecut” surat kabar Jawa Pos. Pengambilan sampel dilakukan pada akhir Maret 2009.

Kata kunci: pragmatik, implikatur, konteks.

PENDAHULUAN
Pragmatik merupakan subdisiplin linguistik interdisipliner yang tidak hanya terbatas pada kerangka teori saja namun merupakan ilmu yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Pragmatik cenderung mengaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. Dengan kata lain, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme dari pada ke arah formalisme. Penerapan pragmatik dalam kehidupan sehari-hari dapat diketahui dengan menganalisis bentuk-bentuk penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan yang berwujud tuturan. Menurut Cruse (dalam Louise Cummings, 2007:3) pragmatik dapat dianggap berurusan dengan aspek-aspek informasi (dalam pengertian yang luas) yang disampaikan melalui bahasa yang (a) tidak dikodekan oleh konvensi yang diterima
secara umum dalam bentuk-bentuk linguistik yang digunakan, namun (b) juga muncul secara alamiah dari dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara konvensional dengan konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersebut [penekanan ditambahkan].
Dalam tulisan Tri Sulistyaningtyas, Yule (1996:3) menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (a) bidang yang mengkaji makna pembicara; (b) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (c) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasi-kan oleh pembicara; (d) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Bahasa merupakan alat pertukaran informasi, namun kadang kala informasi yang dituturkan olah komunikator memiliki maksud terselubung. Oleh karena itu setiap manusia harus dapat memahami maksud dan makna tuturan yang diucapkan oleh lawan tuturnya. Dalam hal ini tidak hanya sekedar mengerti apa yang telah diujarkan oleh si penutur tetapi juga konteks yang digunakan dalam ujaran tersebut. Kegiatan semacam ini akan dapat dianalisis dan dipelajari dengan Pragmatik
Dalam kajian ilmu pragmatik juga dibahas tentang implikatur. Bahkan implikatur disebut-sebut sebagai penemuan yang mengagumkan dan mengesankan dalam kajian ilmu pragmatik. Hal ini patut dinilai kebenarannya karena pada penggunaan bahasa di kehidupan sehari-hari sering terjadi salah paham (misunderstanding) yang menyebabkan maksud dan informasi dari sebuah ujaran tidak tersampaikan dengan baik. Masalah–masalah seperti ini adalah kajian pragmatik yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Dapat kita ketahui berapa banyak macam penggunaan bahasa yang bersifat implikatif seperti iklan, kolom-kolom di surat kabar, SMS, tindak tutur dalam telepon, bahkan tindak tutur yang terjadi secara langsung antara dua orang. Untuk memahami bentuk-bentuk bahasa yang implikatif perlu adanya pengajian dan analisis yang mendalam. Selain itu, dalam mengaji dan menganalisis memerlukan kepekaan dengan konteks yang melingkupi peristiwa kebahasaan itu.

IMPLIKATUR DAN KONTEKS
Konsep tentang implikatur kali petama dikenalkan oelh H.P. Grice (1975) untuk memecahkan masalah tentang makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan dengan teori semantik biasa. Brown dan Yule (dalam Rani dkk 2006:170) menyampaikan bahwa implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah.
Suatu konsep yang paling penting dalam ilmu pragmatik dan yang menonjolkan pragmatik sebagai suatu cabang ilmu bahasa ialah konsep implikatur percakapan. Konsep implikatur ini dipakai untuk menerangkan perbedaan yang sering terdapat antara “apa yang diucapkan” dengan “apa yang diimplikasi”. Sebuah ujaran dapat mengimplikasikan proposisi, yang sebenarnya bukan merupakan bagian dari ujaran tersebut dan bukan pula merupakan konsekuensi logis dari ujaran.
Dapat didefinisikan bahwa implikatur adalah maksud yang tersirat dalam sebuah ujaran. Kadang kala suatu ujaran sulit mendapat pengertian karena menyembunyikan suatu maksud tertentu.
Levinson (dalam Rani dkk, 2006:173) mengemukakan ada empat kegunaan konsep implikatur, yaitu:
1. dapat memberikan penjelasan makna atau fakta-fakta yang tidak terjangkau oleh teori linguistik.
2. dapat memberikan suatu penjelasan yang tegas tentang perbedaan lahiriah dari yang dimaksud si pemakai bahasa.
3. dapat memberikan pemerian semantik yang sederhana tentang hubungan klausa yang dihubungkan dengan kata penghubung yang sama.
4. dapat memerikan berbagai fakta yang secara lahiriah kelihatan tidak berkaitan, malah berlawanan (seperti metafora).
Penggunaan implikatur dalam berbahasa bukan berarti sebuah ketidaksengajaan atau tidak memiliki fungsi tertentu. Penggunaan implikatur dalam berbahasa mempunyai pertimbangan seperti untuk memperhalus tuturan, menjaga etika kesopanan, menyindir dengan halus (tak langsung), dan menjaga agar tdak menyinggung perasaan secara langsung. Dalam tuturan implikatif, penutur dan lawan tutur harus mempunyai konsep yang sama dalam suatu konteks. Jika tidak, maka akan terjadi suatu kesalahpahaman atas tuturan yang terjadi di antara keduanya. Dalam hubungan timbal balik di konteks budaya kita, penggunaan implikatur terasa lebih sopan, misalnya untuk tindak tutur menolak, meminta, memberi nasihat, menegur dan lain-lain. Tindak tutur yang melibatkan emosi mitra tutur pada umumnya lebih diterima jika disampaikan dengan implikatur.
Kemampuan untuk memahami implikatur dalam sebuah tuturan tergantung pada kompetensi linguistik yang dikuasai seseorang. Seorang penutur tidak mungkin menguasai seluruh unsur bahasa karena kompetensi linguistik seseorang itu terbatas. Namun dengan keterbatasan ini, seorang penutur mampu menghasilkan ujaran yang tidak terbatas. Seorang penutur dan lawan tutur akan mampu memahami dan menghasilkan ujaran baru yang benar-benar baru dalam bahasanya.
Konteks adalah teks yang menyertai teks. Secara garis besar, konteks dibedakan atas dua kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks linguistik itu mencakup penyebutan depan, sifat kata kerja, kata kerja bantu, dan proposisi positif. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan berupa unsur-unsur bahasa. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan, partisipan, topik atau kerangka topik, latar, saluran, dan kode.
Hymes, Brown (dalam Louise Cummings, 2007:190) menyebutkan bahwa komponen-komponen tutur yang merupakan cirri-ciri konteks, ada delapan macam, yaitu: (1) penutur (addresser), (2) pendengar (addrese) (3) pokok pembicaraan (topic), (4) latar (setting), (5) penghubung: bahasa lisan atau tulisan (channel), (6) dialek/stailnya (code), (7) bentuk pesan (message), (8) peristiiwa tutur (speech event).
Tanpa memperhatikan konteks, dapat terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi. Jadi konteks sangat penting dalam berkomunikasi karena pada dasarnya konteks adalah salah satu kunci untuk memahami dari sebuah tuturan dengan maksud yang terselubung.

PEMBAHASAN
“Mr. Pecut” merupakan salah satu kolom dalam surat kabat Jawa Pos (JP). “Mr. Pecut” dalam surat kabar lain, sering disebut dengan wacana pojok, karena biasanya terdapat di pojok dalam sebuah surat kabar. Di Harian Kompas dan Kedaulatan Rakyat menggunakan istilah Pojok. Di Suara Merdeka menggunakan istilah Semarangan dan di Solopos menggunakan istilah Nuwun Sewu. Kolom “Mr. Pecut” terdiri dari nama kolom, inti wacana dan sebuah gambar. Wacana pojok disusun oleh redaktur surat kabar untuk menanggapi, berita-berita yang pernah tampil di medianya dengan singkat dan bergaya ironi. Nama kolom ini juga mempunyai implikatur dengan perspektif tanda yakni penggunaan nama “Mr. Pecut”. Pecut adalah sinonim dari kata cambuk. Pecut menandakan alat untuk mencambuk. Alasannya cambuk atau pecut dianalogikan dengan sindiran yang menyakitkan. Sedangkan penggunaan “Mr.” adalah kependekan dari kata “Mister” yang merupakan pengelola dari kolom itu sendiri. Mengambil istilah dari tulisan I Dewa Putu Wijana, inti dari wacana pojok (Mr.Pecut) terdiri dari dua bagian yakni situasi dan sentilan.
Situasi berisi tentang kejadian nyata atau opini yang diambil dari sebuah berita yang sebelumnya dimuat di dalam surat kabar tersebut. Sentilan merupakan komentar atas kejadian atau opini dalam inti wacana. Komentar-komentar tersebut bisa berupa sanggahan, sindiran, kritikan, masukan, saran, ejekan dan lain-lain. Komentar-komentar tersebut sering menggunakan kata-kata pedas yang disajikan secara singkat dan implisit. Komentar-komentar dalam kolom “Mr. Pecut” atau dalam wacana pojok pada umumnya cenderung memihak rakyat. Komentar-komentar tersebut mempunyai implikatur-implikatur yang dapat dipahami dengan mengaitkannya dengan konteks yang ada. Ada pun contoh-contoh implikatur dalam kolom “Mr. Pecut” adalah sebagai berikut,

(1) Kembali bertemu, Mega-Sultan semakin dekat.
Tapi nggak jaminan salah satu mau jadi cawapres!
(JP, 23/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menggambarkan bahwa hubungan Megawati dan Sultan semakin dekat untuk menghadapi Pemilu karena mereka kembali bertemu. Implikatur dalam sentilan tersebut adalah pernyataan yang menyampaikan sindiran bahwa kedekatan dan pertemuan itu tidak mengindikasi salah satu dari mereka mau menjadi calon wakil presiden karena pada konteksnya, Sultan dan Megawati sama-sama berambisi untuk menjadi Presiden.

(2) Kasus DPT fiktif, karena Parpol lalai mengecek.
Malah sibuk mengecek pemasangan baliho!
(JP, 23/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa penemuan kasus DPT (Dafar Pemilih Tetap) dalam Pemilu disebabkan oleh Partai Politik yang lali mengecek DPT tersebut. Implikatur dalam sentilan waacana di atas adalah sindiran dari pengelola “Mr. Pecut” kepada Partai Politik yakni mereka lalai mengecek DPT karena mereka lebih sibuk memasang baliho-baliho yang digunakan sebagai media kampanye. Jika tidak mengetahui konteks yang asli, seorang pembaca dapat salah mengartikan bahwa ungkapan “memasang baliho” adalah memasang baliho untuk iklan atau lainnya.

(3) Cari Cawapres, tim JK temui Sutiyoso.
Tenang, yang ini nggak bisa bikin SBY sakit perut.
(JP, 23/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa untuk mencari Calon Wakil Presiden, Tim sukses dari Jusuf Kalla (JK) menemui Sutiyoso. Hal ini berarti ada kecenderungan bahwa JK akan merekrut Sutiyoso untuk dijadikan pasangan Capres dan Cawapres dalam Pemilu. Implikatur yang muncul dalam sentilan wacana di atas adalah pernyataan untuk tetap tenang, karena hal tersebut tidak membuat SBY gusar. SBY tidak akan gusar karena SBY tidak memiliki pandangan untuk memilih Sutiyoso sebagai Cawapres-nya.

(4) Amien Rais intruksikan agar PAN tinggalkan SBY.
Kasihan Pak, sudah banyak yang ninggalin!
(JP, 25/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa Amin Rais mengintruksikan agar PAN meninggalkan SBY. Dalam sentilan ditanggapi dengan bahasa yang menyatakan simpati dan agak menyindir SBY. Implikatur dalam sentilan tersebut adalah rasa simpati terhadap SBY yang ditinggalkan orang-orang terdekatnya ketika menghadapi Pemilu yang akan berlangsung. Berdasarkan konteks, misalnya adalah bahwa SBY ditinggalkan Jusuf Kallawakil presidennyayang maju sebagai calon presiden bagi partai Golkar.

(5) Gelandangan di Washington berponsel dan menulis blog.
Kalau di sini, kadang nyolong ponsel dan agak goblok…
(JP, 25/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa gelandangan yang hidup di Washington mempunyai ponsel dan mampu menulis di blog. Dalam sentilan, redaktur yang membuat sentilan membandingkan situasi tersebut dengan situasi di Indonesia sehingga implikatur dalam sentilan tersebut adalah gelandangan di Indonesia tidak mempunyai ponsel tetapi justru mencuri ponsel. Selain itu gelandangan di Indonesia tidak mampu menulis di blog karena pada dasarnya mereka goblok (bodoh).

(6) KPU: kursi sisa suara ditentukan lewat undian
Hehehe, pemilu gaya togel!
(JP, 25/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa pada pemilu yang akan berlangsung, KPU memberikan informasi bahwa kursi sisa suara ditentukan lewat undian. Hal ini menimbulkan tanggapan dari pengelola kolom “Mr. Pecut”. Tanggapan itu berupa lelucon dengan gaya menyindir dan mengritik. Immplikatur dalam sentilan itu menyampaikan bahwa jika sisa suara ditentukan lewat undian maka Pemilu seperti permainan togel yang hanya ditentukan oleh faktor keberuntungan. Togel pernah menjadi fenomena yang marak di masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, jika penentuan sisa suara itu benar-benar ditentukan oleh undian maka politikus-politikus sama saja dengan pemain togel.

(7) KPU isyaratkan Pilpres tanpa kampenye terbuka.
Maklum, kita sudah malas dengan omong kosong!
(JP, 26/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa KPU mengisyaratkan agar Pemilihan presiden yang akan berlangsung dilakukan tanpa adanya kampanye terbuka. Sedangkan implikatur dalam sentilan tersebut menyampaikan bahwa selama ini kampanye untuk pemilihan presiden, rakyat hanya disuguhi kampanye yang berisi kata-kata bohong atau janji-janji palsu. Sehingga pengelola sentilan yang ikut statusnya menjadi rakyat menyindir situasi tersebut dengan sudut pandang “kita”.

(8) JK naik becak ke lokasi kampanye.
Ah, susahnya cari suara….
(JP, 26/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa untuk menuju lokasi kampanye Jusuf kalla (JK) rela naik becak. Hal tersebut sangat jarang terjadi, karena biasanya seorang pejabat menggunakan mobil mewah untuk pergi ke suatu tempat. Hal itu menjadi sebuah hal yang ironis, sehingga pengelola “Mr. Pecut” melontarkan “Ah, susahnya cari suara...”. Implikatur dalam sentilan tersebut menyampaikan tanggapan bahwa untuk mencari suara dalam pemilu, JK rela naik becak ketika akan menuju lokasi kampanye.

(9) Pemerintah perpanjang penyaluran BLT
Biar sekalian bisa buat kampanye pilpres!
(JP, 26/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa pemerintah memperpanjang penyaluran BLT (Bantuan Langsung Tunai) kapada masyarakat miskin. Situasi tersebut terjadi pad konteks Pemilu yang akan berlangsung sehingga dikhawatirkan kebijakan itu mempunyai maksud-maksud tertentu. Sindiran terhadap situasi itu dilontarkan dengan tanggapan “Biar sekalian bisa buat kampanye Pilpres”. Implikatur dalam sentilan tersebut adalah alasan pemerintah memperpanjang penyaluran BLT karena mempunyai maksud untuk berkampanye dalam menghadapi Pemilu yang akan berlangsung. Dalam hal itu muncul istilah, “sekali mendayung, dua sampai tiga pulau terlampaui” karena disamping kebijakan pemerintah terus berjalan, kampanye pun juga berjalan.

(10) Tak hadir sidang korupsi Paskah Suzetta alasan sibuk.
Ya, sibuk bikin alasan!
(JP, 27/3/09).

Situasi dalam wacana itu adalah “Tak hadir sidang korupsi Paskah Suzetta alasan sibuk”, sedangkan elemen sentilan adalah “Ya, sibuk bikin alasan”. Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa Paskah Suzetta yang terkena kasus korupsi tidak bisa menghadiri sidang karena ia beralasan sibuk. Jika di dasarkan pada konteks, Paskah Suzetta mungkin saja memang benar-benar sedang sibuk. Lain halnya dengan sentilan dalam wacana tersebut yang berbau sindiran. Sentilan tersebut mempunyai implikatur bahwa Paskah Suzetta tidak hadir dalam sidang karena bukan karena sibuk pekerjaan atau urusan lain, akan tetapi sibuk mencari alasan. Jika dikaitkan dengan konteks, hal ini ada benarnya karena pejabat-pejabat yang terkena kasus pidana di negeri ini sering menghindar jika di panggil untuk menghadiri sidang sehingga mereka sibuk mencari alasan untuk tidak bisa datang ke sidang tersebut.

(11) Hari pemilihan, minta TKI diliburkan.
Ah, tergantung majikannya dong!
(JP, 27/3/09).

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa ketika hari pemilihan yakni Pemilihan Umum, pemerintah minta TKI untuk diliburkan. Akan tetapi dalam sentilan , hal tersebut menjadi sebuah wacana yang ironis. berdasarkan pada konteks yang ada, sentilan tersebut mempunyai implikatur bahwa pemerintah tidak berhak untuk meliburkan TKI karena setiap TKI mempunyai majikan sendiri. Sehingga dalam hal ini sentilan ini secara tidak langsung menyindir para majikan TKI yang sering mengikat hak para TKI sehingga sering kali mereka seolah-olah berkuasa atas hak para TKI yang bekerja padanya.

(12) Bertemu Muhaimin dan Soetrisno Bachir, SBY ajak selesaikan pemerintahan.
Bilang aja mau ngajak koalisi.
(JP, 27/3/09).

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa SBY mengadakan pertemuan dengan Muhaimin dan Soetrisno Bachir dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah dalam pemerintahan. Akan tetapi dalam sentilan pernyataan itu menjadi sebuah pernyataan yang implisit, yakni SBY mengadakan pertemuan dengan Muahaimin dan Soetrisno Bachir mempunyai maksud untuk mengajak mereka untuk koalisi dalam Pemilu yang dalam waktu dekat akan dilangsungkan. Berdasarkan konteks, hal itu mempunyai kebenaran yakni Muhaimin dan Soetrisno Bachir, keduanya adalah ketua umum partai politik yang mempunyai kader dan simpatisan yang besar.

(13) Dana talangan cair proyek tol mangkrak.
Jangan-jangan, investornya sibuk kampanye?
(JP, 28/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa dana talangan sudah cair, akan tetapi proyek tol tetap mangkrak. Hal ini menjadi ironis ketika dana untuk proyek jalan tol itu cair, namun proyek iu sendiri masih tetap mangkrak. Sehingga muncul pertanyaan “Kemanakah dana yang cair tersebut?”. Dalam masalah ini muncul sentilan “Jangan-jangan, investornya sibuk kampanye.” Sentilan tersebut mempunyai implikatur berupa sindiran dan anggapan bahwa dana talangan proyek jalan tol yang turun kemungkinan digunakan para investor untuk melakukan kampanye karena pada konteksnya waktu itu sedang gencar-gencarnya orang-orang melakukan kampanye untuk meyongsong Pemilu.

(14) Survey terakhir: Partai Demokrat, PDIP dan Golkar tiga besar
Semoga bukan survey pesanan mereka bertiga…
(JP, 28/3/09)

Situasi dalam wacana di atas adalah survey yang dilakukan terakhir kali menyatakan bahwa Partai Demokrat, PDIP dan Golkar adalah tiga partai dengan perolehan suara terbesar. Implikatur dalam sentilan yang tertulis di atas adalah adanya harapan bahwa survey tersebut bukan pesanan dari tiga Parpol tersebut. Jika melihat konteks, hal ini ada sebuah kecenderungan bahwa jika hal tersebut benar-benar pesanan Parpol-Parpol tersebut maka hal tersebut dapat mendongkrak popularitas mereka untuk menghadapi Pemilu.

(15) Pelanggaran kampanye, Demokrat terbanyak.
Yang ini sungguhan, bukan hasil survey.
(JP, 28/3/09)

Situasi dalam wacana di atas menyatakan bahwa Partai Demokrat adalah partai dengan pelanggaran yang paling banyak dalam kampanye. Situasi dalam wacan di atas mendapat penguatan dari pengelola “Mr. Pecut” yakni hal tersebut memang benar dan muncul harapan jika hal tersebut adalah bukan hasil dari survey. Implikatur dalam sentilan di atas adalah penguatan bahwa Partai Demokrat melakukan pelanggaran kampanye paling banyak dibanding partai lain dan hasil tersebut bukanah hasil dari sebuah survey. Hal ini juga mempunyai implikatur bahwa adanya penginformasian untuk bersikap hati-hati dan kritis terhadap hasil suatu survey.

PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa implikatur dalam kajian Pragmatik merupakan suatu hal yang sangat penting karena pada kehidupan sehari-hari kita sering menemukan fenomena kebahasan yang mengandung implikatur. Wacana Pojok dalam hal ini “Mr. Pecut” menggunakan implikatur sebagai sarana untuk menyindir, menanggapi, mengkritik, memberi simpati dan lain-lain kepada pihak-pihak tertentu dengan tujuan agar pihak-pihak yang menjadi objek implikatur mengerti dan merefleksikan apa yang telah dilakukannya. “Mr. Pecut” memakai implikatur dengan aplikasi kontek sosial yang terjadi dalam masyarakat. Pemakaian implikatur dalam wacana ini juga dapat menjadi sebuah dasar jika sindiran, kritikan, bahkan makian tidak selalu disampaikan secara langsung dan transparan.

DAFTAR PUSTAKA


Drs. Abdul Rani, M.Pd. dkk.2006. Analisis Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.

Eriyanto. 2003. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKiS.

Haliday, M. A. K dan Ruqaiya Hasan. 1994. Bahasa, Konteks dan Teks. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

I Dewa Putu Wijana. Implikatur dalam Wacana Pojok. Jurnal Humaniora Vol XIII. 2001.

Louise Cummings. 2007. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tri Sulistyaningtyas. Diksi dalam Wacana Iklan Berbahasa Indonesia. Jurnal Sosioteknologi Edisi 15. 2008.

Comments (0)