Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tau beraneka bidang ilmu dari siapa


Kita jadi pintar dididik pak guru
Kita bisa pandai dibimbing bu guru
Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara.......

Lagu yang sangat menggetarkan hati...
silakan unduh di
http://www.4shared.com/audio/-wLCuio_/JASAMU_GURU.htm
oleh: Andi Dwi Handoko

Dilarang mencontek ketika ujian!”. Kalimat larangan inilah yang biasanya dikatakan guru/pengawas ketika ujian sekolah sedang berlangsung. Pada umumnya orang-orang sudah terbiasa mengucapkan kata “mencontek”.

Kata “mencontek” adalah kata yang sudah mendarah daging yang mengacu pada makna seseorang yang menjiplak/meniru pekerjaan teman atau membuka buku/materi secara sembunyi-sembunyi ketika ujian.

Secara kelancaran komunikasi, orang pasti tahu apa makna kata “mencontek”. Namun, yang menjadi persoalan, ternyata kata “mencontek” adalah yang tidak baku. Banyak orang yang mengira kata “mencontek” adalah bentukan dari imbuhan “men(N)-“ yang bertemu kata “contek”. Padahal, kata “contek” termasuk salah satu kata yang tidak baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kata yang baku adalah “menyontek” sehingga kalimat larangan yang tepat untuk digunakan adalah “Dilarang menyontek ketika ujian!”. Kata “menyontek” berasal dari kata “sontek” yang mendapatkan imbuhan “men(N)-“. Dalam kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “sontek/menyontek” mempunyai arti: mengutip (tulisan dsb) sebagaimana aslinya; menjiplak.”

Dimuat Solopos edisi Kamis, 14 Juli 2011, Halaman : 6
oleh: Andi Dwi Handoko

Hari Senin, Jon Koplo, guru senior di sebuah SMA di Wonogiri ini mendapat jatah menjadi pembina upacara. Sebenarnya kondisi Pak Koplo waktu itu rada-rada enggak enak badan.
Namun sebagai guru senior, ia harus menjaga kredibilitasnya di hadapan guru lain dan kepala sekolah.

Makanya meski badan agak klerek-klerek Pak Koplo tetap berusaha tampil seolah-olah sehat. Upacara pun dimulai. Semua prosesi dari penghormatan, pengibaran bendera menyanyikan lagu Indonesia Raya hingga mengheningkan cipta, semua tampak lancar-lancar saja. Protokol pun membacakan acara selanjutnya.

“Pembacaan teks Pancasila oleh Pembina Upacara, diikuti oleh seluruh peserta upacara,” kata sang protokol.

Setelah menerima naskah Pancasila dari ajudan, mulailah Pak Koplo membacanya.

“Pancasila...” ucap Pak Koplo yang kemudian diikuti seluruh peserta upacara.

“Satu,” ucap Pak Koplo

“Satuuu...” tiru peserta upacara serempak.

“Ketuhanan Yang Maha Esa.”

“Ketuhanan Yang Maha Esaaa...”

“Dua.”

“Duaaa...”

“Kemanusiaan yang adil dan makmur!”

Kali ini seluruh peserta upacara bukannya menirukan tapi malah pada ngguyu ger-geran. Mereka menertawakan Pak Koplo yang salah ucap ketika membaca sila kedua yang seharusnya berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Dimuat Solopos edisi Kamis, 14 Juli 2011, Halaman : 1
oleh: Andi Dwi Handoko
Dimuat Solopos Minggu, 10 Juli 2011 , Halaman : VI

Siang begitu terik. Koko dan Kiko baru saja pulang dan sekolah. Mereka saudara kembar yang sekolah di tempat yang sama. Karena jarak rumah dan sekolah mereka hanya dekat, mereka hanya jalan kaki. Setiba di rumah, mereka tak lantas masuk ke dalam. Mereka duduk-duduk dulu di bawah pohon mangga di halaman rumah sambil minum es teh bungkus. Sungguh nikmat rasanya, minum es teh di bawah rindangnya pohon dan ditemani semilir angin sepoi-sepoi di tengah cuaca yang panas.

Kiko yang bersandar di pohon mangga tiba-tiba tersentak kaget. Ada sesuatu yang merayap di lengannya.

“Apa ini?” teriak Kiko.

Koko bingung melihat tingkah saudara kembarnya itu. Dia segera mencari tahu apa penyebabnya. Ternyata ada seekor ulat bulu yang merayap di lengan Kiko. Bukannya menolong, Koko justru menertawakan Kiko.

Tapi Kiko bukanlah anak yang penakut dan cengeng. Setelah tahu kalau yang merayap di lengannya adalah ulat bulu, ia pun mencari patahan ranting dan menyingkirkan ulat itu dari lengannya. Ulat bulu itu jatuh ke tanah. Ulat bulu tersebut berwarna cokelat dan tubuhnya dipenuhi dengan bulu-bulu halus.

Koko dan Kiko pun mencari tahu dari mana asal ulat bulu tersebut. Ternyata ulat bulu itu berasal dari pohon mangga tempat mereka berteduh. Ada banyak sekali ulat bulu yang menempel di pohon, ranting, dan dedaunan. Bukannya menghindari ulat bulu, mereka malah bermain-main dengan ulat bulu tersebut. Mereka bahkan mengambil ulat bulu tersebut dan menakut-nakuti Adisty dan Laura yang baru saja pulang sekolah. Adisty dan Laura yang takut dan geli terhadap ulat bulu, langsung lari terbirit-birit. Sedangkan Koko dan Kiko malah tertawa terpingkal-pingkal.

Ibu Koko dan Kiko yang mendengar suara gaduh, segera keluar rumah.

“Heh...Koko dan Kiko, kalian jangan bermain ulat bulu!”

“Enggak kok Bunda, “jawab Koko dan Kiko sembari membuang ulat bulunya.

“Kalian jangan bandel seperti itu. Ulat bulu bisa membuat badan kalian gatal. Ayo, cepat cuci tangan kalian dengan sabun dan ganti baju!” “Iya Bun..” jawab mereka hampir bersamaan.

Setelah cuci tangan, ganti baju dan makan siang, mereka masih penasaran dengan ulat bulu yang ada di pohon mangga. Ulat itu jumlahnya sangat banyak tidak seperti biasanya. Tiba-tiba saja Koko mempunyai ide yang menurutnya menarik. Koko mengajak Kiko untuk mengambil dua ekor ulat bulu untuk digunakan sebagai permainan. Kiko pun menurutinya.

“Tapi nanti kalau ketahuan Bunda bagaimana?” tanya Kiko.

“Kita bermainnya di dalam kamar saja. Pasti Bunda tidak tahu.”
“Oke kalau begitu, tapi dua ulat itu mau kita apakan?”
“Pokoknya ada deh. Nanti aku beri tahu kalau sudah ada di kamar.”

Mereka pun membawa dua ekor ulat ke dalam kamar mereka.
“Nah, sekarang kita adu balap kedua ulat bulu ini,” kata Koko setelah sampai di kamar.

“Wah, pasti menarik ini!” kata Kiko antusias.

“Ayo, pilih ulat jagoanmu! Garis ubin itu tanda batas lintasan balapnya. Ulat yang sampai di pangkal dinding, berarti itu yang menang,” kata Koko.

“Oke! Ayo kita mulai!” Mereka pun memulai permainan balap ulat bulu. Mereka pun gembira, tetapi tidak sampai berteniak-teriak karena takut ketahuan ibunya. Namun, beberapa menit kemudian. Kegembiraan mereka terusik. Badan mereka gatal-gatal. Di tangan mereka timbul bintul-bintul merah dan sangat gatal.

Karena tidak tahan gatal, Koko dan Kiko menangis. Ibunya datang memberi pertolongan. Karena bintul-bintulnya menyebar ke beberapa bagian tubuh, mereka pun diperiksakan ke dokter supaya bintulnya cepat hilang dan sembuh. Koko dan Kiko harus minum obat, padahal mereka sangat tidak suka dengan obat. Tetapi mereka harus meminumnya supaya gatalnya sembuh.

“Makanya kalian itu harus menurut nasihat Bunda. Diberi tahu kalau jangan bermain ulat. Eh, kalian malah nekat bermain ulat bulu. Nah, ini akibatnya. Badan kalian gatal-gatal dan harus minum obat,” nasihat ibunya.

“Maafkan Koko, Bunda! Koko menyesal. Koko tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Koko.

“Kiko juga minta maaf, Bunda,” tambah Kiko.

oleh: Andi Dwi Handoko

Tengah siang, matahari begitu terik. Lelaki itu tampak termenung melihat alat-alat kerjanya. Udara yang begitu panas membuat badannya gerah. Terlihat buliran keringat menempel di dahinya. Namun, kadang ada sepoi angin yang sedikit membuatnya segar. Apalagi di depan tempatnya bekerja, tumbuh pohon mangga yang sedikit lebat.

Lelaki itu lantas mengambil kunci ring dan pencongkel ban, kemudian membuat suara-suara tak bernada dengan mengadu kedua alat tersebut. Ada rasa galau dalam hatinya. Usaha tambal bannya hari-hari terakhir ini sangat sepi. Terlebih hari ini, sudah pukul 12 belum ada satu pun orang yang menggunakan jasanya.

Lamunan lelaki itu pun berjalan menembus ruang-ruang imajinasi. Ia teringat anak pertamanya yang akan masuk SMA dan anak keduanya yang akan masuk SMP. Semuanya butuh biaya. Apalagi kini biaya sekolah kian mahal, padahal dulu sempat digembor-gemborkan gratis oleh pemerintah. Sementara kebutuhan hidup bertambah, pemasukannya dari usaha tambal ban malah semakin sepi.

Namun sejenak ada secercah harapan. Ia kedatangan seorang pemuda yang menuntun motornya. Agaknya ban depannya kempes.

“Tambal ban Pak.”
“Iya Mas, mari silakan duduk, biar motornya saya yang urus.”
“Terima kasih Pak.”
“Bocor di mana Mas?”
“Itu Pak tadi habis ambil uang di bank di sebelah sana itu. Eh, keluar dari parkiran bank, ban
depannya kempes seperti itu.”

Kedua orang itu kemudian tak bercakap-cakap. Si pemuda sibuk dengan ponselnya dan lelaki penambal itu sibuk mencari apa yang menyebabkan ban depan motor pemuda itu kempes.

“Wah Mas, ini bannya tertusuk kawat kecil, lubangnya ada dua. Jadi, harus dua kali menambal.”
“Ya enggak apa-apa Pak, saya tunggu.”

Sesaat hening. Hanya terdengar suara kendaraan yang lalu lalang di jalan. Kedua lelaki itu kembali pada kesibukannya masing-masing. Setelah beraktivitas dengan ponselnya, pemuda itu kembali membuka percakapan.
“Bapak sudah lama jadi penambal ban?”
“Kira-kira sudah tiga tahun Mas. Dulu pernah kerja jadi sales obat, sales alat-alat masak, jadi buruh pabrik dan kuli bangunan, tapi setelah punya sedikit modal saya buka usaha ini Mas.”

Kedua lelaki itu pun terlibat dalam pembicaraan. Setelah berkenalan, pemuda itu tahu nama bapak penambal ban itu adalah Pak Bejo. Sedangkan Pak Bejo menjadi tahu bahwa pemuda itu bernama Arif.

“Nama Bapak sungguh menarik, pasti orangtua Bapak ingin Bapak menjadi orang yang selalu beruntung. Bejo kan beruntung. He he he.”
“Ya memang ada benarnya Mas, tetapi saya kok merasa tidak beruntung terus ya? Sudah gonta-ganti pekerjaan tetapi tetap saja miskin.”
“Bapak jangan pesimistis, setiap usaha pasti ada hasilnya.”
“Bayangkan saja Mas, anak pertama mau masuk SMA dan anak kedua mau masuk SMP. Butuh biaya banyak kan? Apalagi, istri beberapa hari ini tidak jualan ke pasar karena sakit. Dan herannya, tambal ban juga sepi. Nah ini, Mas Arif adalah pelanggan pertama hari ini. Kalau begini terus, sekolah kedua anak saya bagaimana? Kalau PNS sih bisa utang di bank.”
“Waduh Pak, kebutuhan Bapak memang tidak sedikit tetapi percayalah Pak, kalau bekerja dilandasi dengan ikhlas, pasti balasannya setimpal dengan usaha kita. Bapak tahu hukum kekekalan energi?”
“Apa itu Mas? Bapak saja SMP tidak lulus. Tidak mengerti masalah seperti itu.”
“Jadi begini Pak. Hukum kekekalan energi itu adalah energi yang kita keluarkan sama dengan energi yang kita terima. Ada energi positif dan ada negatif. Jika bekerja keras disertai ikhlas itu energi positif, artinya energi yang baik. Jika mengeluarkan energi yang baik, tentu nanti yang kita terima juga energi yang baik. Begitu juga sebaliknya Pak. Itu berlaku di kehidupan kita Pak.”
“Saya mulai mengerti penjelasan Mas Arif tetapi saya juga tidak setuju.”
“Kenapa Pak?”
“Mas Arif tadi dari bank ta? Lihat karyawan-karyawannya, mereka kerja duduk-duduk di depan komputer, ruangan mak nyus dinginnya, tetapi gajinya besar. Bandingkan dengan saya, sudah panas-panas, kotor tapi pendapatan pas-pasan. Itu kan tidak sama dengan penjelasan Mas Arif tadi.”
“Itu beda Pak. Mereka itu sebelumnya sudah menabung energi positif, yaitu mengenyam pendidikan. Pendidikan kan juga usaha, butuh uang dan pikiran. Jadi, mereka sudah memetik usahanya. Bila ada orang yang berpendidikan tapi usahanya dilakukan dengan cara-cara kotor, sama halnya mereka menabung energi negatif Pak. Contohnya koruptor, mereka itu bekerja sedikit, uang banyak. Tapi akhirnya apa? Masuk penjara ta? bisa jadi masuk penjara adalah hasil dari tabungan energi negatif.”
“Oh begitu ya Mas.”
“Iya Pak. Bapak percaya dengan keberuntungan? Misalnya ada orang yang tiba-tiba dapat hadiah besar?”
“Percaya Mas. Buktinya Karyo tetangga saya dapat hadiah jutaan rupiah dari bank. Dia itu memang beruntung.”
“Kalau menurut saya, itu bukan keberuntungan Pak. Semua itu hasil tabungan energi positif. Jadi, misalnya orang yang bekerja maksimal dengan dilandasi ikhlas tapi hasilnya minimal. Berarti dia telah menabung energi positif. Energi itu semakin lama semakin menumpuk dan akhirnya menjadi hasil yang luar biasa. Jadi, tidak sekadar keberuntungan Pak.”
“Benar juga Mas, berarti saya harus bekerja keras dan ikhlas, biar menabung energi positif ya Mas?”
“Benar Pak. Niat Bapak menambal ban itu apa?”
“Ya bekerja Mas, untuk mencukupi kebutuhan keluarga.”
“Kalau banyak orang yang ban motornya bocor dan menambal di sini berarti Bapak senang karena uang yang dihasilkan bisa lebih banyak?”
“Iya Mas. Kalau ramai saya senang karena penghasilan bertambah. Otomatis kan bisa mencukupi kebutuhan keluarga.”
“Wah, itu sama saja Bapak bersyukur di atas penderitaan orang lain dong? Orang lain kena musibah, tetapi Bapak senang. Coba sekarang niat Bapak itu diubah.”
“Diubah bagaimana Mas?”
“Niat Bapak diubah menjadi ingin menolong orang yang bannya bocor. Menolong kan energi positif. Jadi, selain ingin mencari rezeki juga untuk menolong orang lain Pak. Itu yang dinamakan kerja ikhlas.”
“Wah benar juga Mas. Insya Allah, mulai sekarang saya coba mengubah niat seperti itu. Ini sudah beres Mas. Karena dua yang bocor, biayanya jadi delapan ribu.”
Pemuda itu pun mengeluarkan dompetnya. Ia memberikan uang pecahan Rp 100 ribu kepada Pak Bejo. “Waduh Mas, ada yang kecil? Tidak ada kembalian soalnya.”
“Sudah Pak, enggak usah pakai kembalian. Anggap saja ini hasil dari energi positif karena Bapak telah menolong saya.”
“Terima kasih sekali Mas. Nasihat dan kebaikan Mas Arif pasti tidak akan saya lupakan.”

Senyum kelegaan Pak Bejo mengantar pemuda itu meninggalkan bengkel tambal bannya.

Dimuat Solopos, Jumat, 01 Juli 2011 Halaman : X